Senin, 09 April 2012

Sejarah 3D dan Evolusi 3D TV


Manusia melihat kehidupan nyata secara mendalam melalui sebuah fenomena yang disebut “binocular fusion” atau fusi teropong. 3D TV secara digital meniru cara otak kita dalam mempersepsikan 3D dalam kehidupan nyata, sehingga memberikan kita pengalaman menonton dengan suasana nyata melalui  gambar-gambar yang tampak keluar dari TV.

3D TV dan mata manusia memiliki banyak kesamaan. Antara mata kiri dan mata kanan kita memiliki jarak, sehingga keduanya melihat gambar dengan prespektif yang sedikit berbeda. Otak kita menggabungkan kedua gambar tersebut untuk menciptakan kesan 3 Dimensi, begitu pula dengan 3D TV. Kedua gambar tersebut,  yang masing-masing memiliki sudut yang sedikit berbeda, dilihat melalui kacamata 3D dan kemudian digabungkan oleh otak untuk membuat sebuah gambar 3 Dimensi.

Teknologi 3D pertama kali muncul dalam industri film pada akhir abad ke 19. Sejak saat itu, teknologi 3D terus berkembang hingga kini menjadi sebuah hiburan yang dapat dinikmati di rumah.

1890 – William Friese-Greene, seorang pembuat film dan penemu asal Inggris  memproyeksikan kedua gambar kiri dan kanan pada satu layar dan menyediakan kacamata merah dan hijau kepada para penonton, sehingga menghasilkan efek 3D saat film tersebut ditonton.

1922 – Film 3D pertama, “The Power of Love” dirilis. Film merah dan hijau yang terpolarisasi , ditonton dengan menggunakan kacamata merah dan hijau untuk menciptakan efek 3D.

1970 -Direktur Film Allan Sollipant dan Opticist Chris Condon menciptakan teknologi 3D baru yang disebut “stereovision”. Metode baru ini menggantikan penggunaan dua film terpisah pada dua layar, dengan film 3D baru yang diproyeksikan ke layar tunggal.

2004 – Film 3D IMAX pertama, “The Polar Express” dirilis.

2010 - Perilisan film pemenang Oscar, “Avatar”, membawa minat baru untuk televisi 3D. 3D TV dengan menggunakan teknologi SG 3D (Shutter Glasses) diluncurkan pada 2010 dan diikuti oleh teknologi FPR 3D (Film Patterned Retarder). FPR memungkinkan penonton untuk menikmati 3D TV dengan mengenakan kacamata 3D yang ringan dan bebas baterai.

Teknologi 3D Generasi Pertama menggunakan Shutter Glasses 3D, dimana sebagian efek 3D dihasilkan melalui teknologi yang tertanam didalam kacamata, yang membuat kacamata tersebut berukuran besar dan mahal. Teknologi 3D Generasi berikutnya, FPR (Film Patterned Retarder) 3D bergantung pada televisi, bukan pada kacamata, untuk dapat menghasilkan gambar 3D. Oleh karena itu penonton dapat menggunakan kacamata yang ringan dan nyaman seperti yang digunakan di beberapa bioskop.

Generasi Pertama : Shutter Glasses 3D
Shutter Glasses 3D menggunakan lensa yang dilapisi Liquid Crystal (Kristal Cair) dan kacamata tersebut berfungsi memisahkan gambar dengan menutup gambar kiri dan kanan yang ditampilkan oleh 3D TV secara bergantian, sehingga ada beberapa efek samping yang dihasilkan seperti Flicker (Kedipan) dan Crosstalk (Gambar Berbayang), yang menyebabkan mata cepat lelah, pusing dan mual.

Generasi Berikutnya : FPR 3D
Pada FPR 3D, pemisahan gambar dilakukan pada lapisan Panel FPR di 3D TV tersebut, bukan di kacamata, sehingga kacamata FPR 3D tidak membutuhkan baterai, terasa ringan layaknya kacamata biasa, lebih murah dan bebas dari semua efek samping yang ditimbulkan oleh Kacamata SG 3D (Bebas Gelombang Elektromagnetik, Flicker Free & Less Crosstalk).

Generasi Mendatang : Glasses-free 3D
Teknologi 3D terus berkembang, dan dalam beberapa tahun mendatang produsen diharapkan untuk dapat memperkenalkan 3D TV yang tidak membutuhkan Kacamata 3D ke pasaran, untuk memenuhi kebutuhan hiburan dirumah yang bebas dari hambatan teknis dan masalah biaya.

(mb via fpr3d)

Pilar Pendidikan Menurut UNESCO



Salah satu indikator kualitas kesejahteraan suatu bangsa, ditentukan oleh pendidikan, karenanya arah kebijakan pendidikan suatu bangsa menunjukan arah kesejahteraan yang ingin dicapai bangsa tersebut. Untuk itu UNESCO memberi koridor pendidikan dalam 4 pilar yakni :
•    learning to know,
•    learning to do,
•    learning  to be, dan
•    learning to live together.
Dalam perjalanan selanjutnya, pilar ke empat ditambahkan menjadi lerarning to live together in peace an harmony. Berikut ini penjelasan tentang ke-4 pilar pendidikan tersebut :

1. Lerning to know : Artinya siswa memiliki pemahaman dan penalaran yang bermakna terhadap produk dan proses pendidikan (apa,bagaimana, dan mengapa) yang memadai. Dalam pembelajaran misalnya, siswa diharapkan memahami secara bermakna fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, model, idea , dan hubungan antar idea tersebut; dan alasan yang mendasarinya, serta menggunakan idea itu untuk menjelaskan dan memprediksi proses-proses berikutnya.

2. Lerning to do : Artinya siswa memiliki keterampilan dan dapat melaksanakan proses pembelajaran yang memadai untuk memacu peningkatan perkembangan intelektualnya. Beberapa hal yang mendukung penerapan “learning to do” dalam pembelajaran adalah :  (1) Pembelajaran berorientasi pada pendekatan konstruktivisme. (2) Belajar merupakan proses yang aktif, dinamik, dan generatif

3. Lerning to be : Artinya siswa dapat menghargai atau mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses pendidikan , yang ditunjukkan dengan sikap senang belajar, bekerja keras, ulet, sabar, disiplin, jujur, serta mempunyai motif berprestasi yang tinggi dan rasa percaya diri. Aspek-aspek di atas mendukung usaha siswa meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan keterampilan intelektual dirinya secara berkelanjutan.

4.  Lerning to live together in peace and harmony : Artinya siswa dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dalam proses pendidikan , melalui bekerja atau belajar bersama atau dalam kelas, saling menghargai pendapat orang lain, menerima pendapat yang berbeda, belajar mengemukakan pendapat dan atau bersedia “sharing ideas” dengan orang lain dalam kegiatan pembelajaran atau bidang lainnya.

Misteri Wanita Indonesia Temukan Madagaskar


Ini salah satu episode aneh dalam kisah pengembaraan manusia: faktor ketidaksengajaan menuntun orang menemukan Madagaskar. Seperti dimuat situs sains, Physorg.com, sejak lama Madagaskar menjadi daya tarik bagi para antropolog. Salah satu alasannya, mengapa manusia tak menjamahnya selama ribuan tahun. Pulau keempat terbesar dunia itu sebelumnya hanya dihuni para lemur.

Tim ilmuwan biologi molekular yang dipimpin Murray Cox dari Massey University Selandia Baru menggunakan uji DNA dari 266 orang dari tiga etnik Malagasy -- orang asli Madagaskar, untuk menguak teka-teki migrasi itu. Mereka menemukan, sekitar 1.200 tahun lalu, sekelompok manusia untuk kali pertamanya menginjakkan kaki di Madagaskar. Diduga karena kapal yang karam. Hasil analisa gen dari mitokondria -- baterai sel yang gennya diwariskan dari ibu, menyimpulkan, 30 perempuan termasuk penemu Madagascar, 28 di antaranya dipastikan dari Indonesia.

Para ilmuwan juga memastikan, pembawa kromosom Y -- yang diwariskan garis ayah berasal dari nusantara, hanya belum diketahui pasti berapa jumlahnya. Simulasi komputer menunjukkan, pemukiman pertama di Madagaskar ada pada tahun 830 Masehi, saat yang bersamaan dengan berkembangnya perdagangan nusantara di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, yang berpusat di Sumatera. Tak hanya soal DNA, ada faktor lain yang menunjukkan kontribusi nusantara, yakni bahasa.

Dari segi linguistik, penduduk Madagaskar bicara dalam bahasa, yang asal-usulnya bisa dilacak sampai Indonesia. Sebagian besar dari leksikon Ma'anyan, bahasa yang dipraktekan sehari-hari di masyarakat yang bermukim di sepanjang Sungai Barito, di wilayah pedalaman. Juga ditemukan segelintir bahasa yang akarnya dari Jawa, Melayu, atau Sansekerta.

Bukti lain pengaruh nusantara di Madagaskar adalah penemuan perahu cadik, peralatan besi, instrumen musik seperti gambang. Juga peralatan makan yang sangat 'tropis', sistem tanam padi, pisang, ubi jalar di sela-sela hutan.

"Kontribusi Indonesia ada pada bahasa, budaya, dan gen, yang terus berlanjut hingga saat ini di Madagaskar," demikian isi laporan tim ilmuwan.

Bagaimana para perempuan ini sampai di Madagaskar, hingga kini masih jadi misteri besar. Tapi, ada tiga teori soal ini. Pertama, meski tak ada bukti, mereka dibawa oleh kapal dagang. Teori kedua, Madagaskar sejak dulu memang dijadikan koloni dagang atau tempat pelarian orang yang kehilangan tanah dan juga kuasa karena ekspansi Kerajaan Sriwijaya. 

Hipotesis ketiga dan paling berani, para perempuan itu kebetulan ada dalam kapal yang tanpa sengaja mengarungi samudera. Simulasi arus laut dan pola cuaca di musim hujan mendukung teori ini. Memang, fakta membuktikan, reruntuhan kapal pengebom dari Sumatera dan Jawa saat Perang Dunia II terbawa arus ke Madagaskar.

Bahkan, dalam sebuah kasus, termasuk seorang korban selamat dalam sekoci yang berlabuh di Madagaskar.


• VIVAnews

Minggu, 08 April 2012

Lang Suir (Pontianak)


Para pontianak (Belanda-Indonesia ejaan: boentianak) adalah hantu vampir di Melayu dan mitologi Indonesia . Ia juga dikenal sebagai matianak atau kuntilanak, kadang-kadang disingkat menjadi kunti. Seperti tiyanak dari Filipina, pontianak dikatakan roh wanita yang meninggal saat hamil. Hal ini sering bingung dengan makhluk terkait, Suir lang, yang adalah hantu wanita yang meninggal saat melahirkan.

Para pontianak Kata dilaporkan sebagai korupsi dari Melayu Perempuan Mati beranak, atau "wanita yang meninggal saat melahirkan". Teori lain adalah bahwa kata adalah kombinasi dari LakiLaki (wanita) + Mati (mati) + Anak (anak) . Para matianak istilah berarti "kematian seorang anak". Kota Pontianak di Indonesia dinamai makhluk, yang mengklaim telah dihantui sultan pertama yang pernah menetap di sana.

Penampilan
Pontianak biasanya digambarkan sebagai wanita berkulit pucat dengan rambut panjang dan berpakaian putih, tetapi mereka dikatakan dapat mengambil penampilan yang indah karena mereka memangsa manusia. Pada tahun 1977 kumpulan cerita pendek berkas Konsul itu Paul Theroux mencanangkan bahwa hantu adalah penemuan istri Melayu yang ingin mencegah suami dari seksual acak dengan perempuan bahwa mereka bertemu di jalan pada malam hari.

Dalam cerita rakyat, sebuah pontianak biasanya mengumumkan kehadirannya melalui tangisan bayi. Jika tangisan lunak, berarti pontianak jauh, dan jika sudah keras, maka harus dekat. Beberapa percaya bahwa jika Anda mendengar anjing melolong, itu berarti bahwa pontianak yang jauh.

Tetapi jika anjing yang merengek, itu berarti pontianak adalah dekatnya. Kehadirannya kadang-kadang dapat dideteksi dengan keharuman bunga yang bagus yang dapat diidentifikasi seperti yang dari plumeria , diikuti oleh bau busuk mengerikan sesudahnya.
Pontianak Sebuah membunuh korbannya dengan menggali ke dalam perut mereka dengan kuku yang tajam dan melahap organ mereka.

Dalam beberapa kasus dimana pontianak keinginan balas dendam terhadap individu laki-laki, merobek keluar organ seks dengan tangannya. Dikatakan bahwa jika Anda memiliki mata Anda terbuka saat pontianak sudah dekat, itu akan menyedot mereka keluar dari kepala Anda. Pontianak mencari mangsa dengan mencium pakaian ditinggalkan di luar sampai kering. Untuk alasan ini, beberapa Melayu menolak untuk meninggalkan setiap artikel pakaian luar kediaman mereka semalam.

Pontianak dikaitkan dengan pohon pisang (Pokok pisang), dan semangat dikatakan berada di dalamnya sepanjang hari. Untuk menangkis sebuah pontianak, paku harus terjun ke dalam lubang di tengkuknya. Ini dikatakan membuat wanita cantik dan istri yang baik dia sampai kuku akan dihapus. Dalam kasus kuntilanak, kuku yang terjun ke puncak kepalanya.

Para kuntilanak bahasa Indonesia mirip dengan pontianak, tetapi lebih sering mengambil bentuk seekor burung dan mengisap darah perawan dan wanita muda. Burung, yang membuat "Ke-ke-ke" suara seperti lalat, dapat dikirim melalui ilmu hitam untuk membuat seorang wanita sakit, gejala karakteristik sebagai perdarahan vagina. Dalam bentuk perempuan, ketika seorang pria mendekatinya tiba-tiba berbalik dan mengungkapkan bahwa punggung adalah hampa, tapi penampakan ini lebih khusus disebut sebagai sundel bolong .

Lang Suir
Para Suir lang berhubungan dengan pontianak, tetapi dianggap lebih berbahaya. Istilah ini biasanya dieja sebagai dua kata, tetapi sekarang lebih sering diberikan langsuir atau langsuyar, berasal dari kata Melayu untuk elang (helang). Dalam penggunaan populer, pontianak dan lang Suir sering bingung, tetapi mereka sebenarnya sangat berbeda.

Sementara pontianak adalah hantu seorang anak yang meninggal saat dilahirkan, lang Suir adalah roh perempuan yang menderita sakit yang bekerja (meroyan) yang menghasilkan kematian ibu dan bayi saat melahirkan. Seperti seorang wanita akan menyerahkan ke Suir lang 40 hari setelah kematiannya. Untuk mencegah hal ini terjadi, manik-manik kaca ditempatkan di mulut mayat. Di China, Lang Suir berarti orang sial.

Tidak seperti pontianak yang muncul indah dan memangsa manusia, yaitu Suir lang adalah mengerikan dengan mata merah dan kuku tajam panjang. Korban-korban mereka adalah ibu hamil, yang mereka baik membunuh atau menyebabkan mengalami keguguran. Lang Suir menghisap darah korbannya melalui lubang di belakang lehernya.

Jika seseorang menempatkan rambut Suir lang di lubang ini atau memotong cakar mereka, itu akan menjadi manusia lagi. Sementara pontianak dikaitkan dengan pisang pohon, lang Suir dikatakan ditemui di dekat pantai sungai atau laut. Cara ini, jika korban manusia belum tersedia, mereka mungkin memangsa ikan
.
Lang Suir sering digambarkan sebagai orang yang berpakaian putih atau hijau. Seperti kuntilanak tersebut, Suir lang mampu terbang, termasuk dalam bentuk burung hantu . Kata Melayu untuk burung hantu sebenarnya berarti "burung hantu".

Dari Wikipedia, ensiklopedia bebas